Obat Radang Isi Perut Tingkatkan Risiko Kanker

31 10 2009

0957138p
Meski manfaatnya mengalahkan risikonya, pengobatan penyakit radang isi perut berpotensi meningkatkan risiko kanker yang berhubungan dengan infeksi. Demikian diungkap ilmuwan Prancis.

Obat “thiopurine” atau obat “immunosupressive” yang menghalangi sistem kekebalan tubuh biasa digunakan untuk mengobati penyakit radang isi perut, kata para peneliti tersebut. Sayang obat ini dapat meningkatkan risiko kanker yang berkaitan dengan virus.

Obat “immunosupressive” melibatkan tindakan yang mengurangi kegiatan atau kemanjuran sistem kekebalan tubuh.

Laurent Beaugerie dan rekannya di rumah sakit Saint Antoine di Paris meneliti lebih dari 19.000 pasien dengan penyakit radang isi perut. Sebanyak 30 persen pasien menggunakan “thiopurines”, 14 persen telah berhenti menggunakannya dan 56 persen tak pernah menggunakannya.

Setelah diikuti perkembangan semua pasien selama hampir tiga tahun, para peneliti menemukan 23 kasus baru kanker. Satu pasien terserang “Hodgin’s lumphoma” dan 22 lagi “non-Hodgin lymphoma.

Hodgkin’s lymphoma adalah sejenis lymphoma, kanker yang berpangkal dari sel darah putih yang disebut “lymphocytes”.

Analisis statistik memperlihatkan bahwa semua pasien yang menerima “thiopurine” seperti “azathioprine”, yang diproduksi beberapa pembuat obat generik, dan oleh Glaxo SmithKline dengan nama “Imuran” meningkatkan risiko terserang “lymphoma” lima kali lipat dibanding mereka yang tak pernah menggunakan obat itu, kata para peneliti tersebut di dalam jurnal “The Lancet”.

Pasien pria yang berusia lebih tua dengan sejarah penyakit radang isi perut yang lebih lama juga memiliki risiko peningkatan kanker “lymphoma”.

“Risiko penumpukan mutlak … pada pasien muda yang menerima jalur “thiopurine” selama 10 tahun tetap rendah, kurang dari 1 persen dan tak mengurangi rasio manfaat resiko positif obat ini,” tulis para peneliti itu, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.

Namun bagi pasien yang lebih tua dan untuk masa pengobatan tanpa batas, studi lebih lanjut diperlukan guna menilai risikonya, kata mereka.

Ketika mengomentari studi tersebut, Geert D’Haens dari Imelda GI Clinical Research Center dan Paul Rutgeerts dari University Hospital Gesthuisberg, keduanya di Belgia, mengatakan para dokter mesti berhati-hati dalam memberi resep obat “thiopurine” untuk waktu lama.

Namun mereka mengatakan kendati ada peningkatan resiko “lymphoma”, obat tersebut “barangkali akan tetap menjadi salah satu tonggak sejarah pengobatan”.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: