Hati Ibarat Cermin

10 11 2009

Bandingkan dua buah cermin. Dibuat pada waktu yang sama, ditempatkan di tempat
yang sama, bahkan menerima pencahayaan dan suhu udara yang sama. Yang membedakan
hanyalah dua orang manusia yang memilikinya.

Yang pertama, malas sekali membersihkannya. Setiap ada setitik debu menempel di
cermin, dia biarkan. Bahkan cipratan tinta yang mengenai cermin pun dia enggan
membersihkannya. Dia sama sekali tidak pernah mau sekedar menghapus, atau
menggesek cermin kesayangannya itu dengan lap bersih atau air bersih. Segala
noda dia biarkan menempel di cermin.

Awalnya cipratan tinta itu mungkin hanya setitik, dua titik, lalu tiga titik,
hingga selanjutnya mengendap menjadi gumpalan tinta yang sudah mengering di
permukaan cermin. Sampai-sampai, si pemiliknya sendiri tidak bisa bercermin pada
cerminnya sendiri. Dia tidak bisa melihat apakah dirinya baik, atau jelek, saat
berdiri di depan cermin. Lama-lama, cipratan-cipratan tinta itu pun menjadi
karat. Dan cermin sudah tidak berfungsi baik lagi. Bahkan, kadang-kadang, karena
telah ternodai oleh gumpakan tinta yang mengarat, cermin memantulkan kebaikan
menjadi kejelekan, atau kejelekan menjadi kebaikan. Karena sudah mengarat,
cermin pun susah untuk dibersihkan…

Yang kedua, merawat cerminnya dengan baik. Setiap ada setitik cipratan tinta,
meskipun sedikit, dia langsung membersihkannya. Menggosoknyanya dengan lap dan
air yang bersih. Sehingga cermin setiap harinya selalu jernih, mampu memberinya
pengetahuan tentang sebaik/seburuk apa dirinya jika berdiri di depan cermin
tersebut. Sehingga cermin bisa membuatnya selalu mengoreksi setiap kesalahan
dalam penampilannya.

Rajin-rajinlah membersihkan hati kita… Karena jika tidak, niscaya dosa-dosa
itu semakin lama akan semakin menumpuk dan menutupi cahayanya. Yang lebih
menakutkan, noda-noda dosa itu bisa membolak balikkan fakta. Yang benar jadi
batil, yang batil jadi benar. Naudzubillah…

Setiap hari.. carilah pengampunanNya. Istighfar.bukan hanya di mulut saja. Namun
penyesalan terdalam akan semua kehilapan yang kita lakukan. Setiap dosa adalah
bahaya. Meski sepatah kata atau sekelebat lirikan mata, itu awal dari noda yang
bisa menjadi karat jika tidak cepat-cepat dibersihkan.

Ada pepatah, “Menyesali sebelum melakukan, adalah keberuntungan dan menyesal
setelah kejadian, adalah ketidak bergunaan” Intropeksi diri.beristighfar setiap
waktu adalah lebih baik daripada terlanjur melakukan kekhilafan. Allah memang
Maha penerima taubat, tapi urusan kita adalah untuk selalu menjaga diri dari
dosa. !!!!


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: