KITA SEBENARNYA SENDIRIAN

10 11 2009

Anda tidak percaya bahwa kita semua adalah sendirian? Mari kita
melihat ke fakta yang ada. Hilangkan fungsi seluruh panca indera
anda.dan kalau ada juga indera ke enam. Maka apa yang tersisa? Pikiran
bukan? Dan coba kita lihat pikiran tanpa panca indera itu. Apakah yang
tersisa dari pikiran? Tentu saja segala pengalaman yang telah lalu
beserta pemikiran-pemikirannya.

Hal kehilangan panca indera hampir mirip ketika kita tidur dan
bermimpi. Mungkin tidak seluruh panca indera kehilangan fungsi ketika
kita bermimpi, tapi paling tidak otak tidak merasakan input sensor

dari panca indera yang sesuai dengan apa yang sedang kita alami dalam
mimpi. Input yang kita rasakan dari panca indera ketika kita tidur
adalah memberitahu bahwa kita sedang tergeletak di atas tempat tidur
dengan posisi tertentu. Namun adegan yang kita alami dalam mimpi
adalah hal lain, bukan adegan ketika kita sedang tidur. Mungkin saja
kita sedang bermimpi bertemu dengan binatang buas, atau bertemu
kembali dengan pacar, atau bahkan merasakan kembali adegan ketika kita
kecil dan dimarahi oleh orang tua kita. Sedangkan ketika kita bermimpi
panca indera kita memberitahu bahwa kita sedang tidur di kasur. Namun
ketika bermimpi tersebut, kita tidak merasakan sama sekali diri kita
sedang tidur! Yang ada mungkin kita merasa sedang berlari-lari karena
dalam mimpi kita sedang dikejar-kejar macan misalnya. Terkadang kita
tahu kita sedang bermimpi, terkadang juga kita tidak tahu atau terlena
dalam mimpi. Ketika kita benar-benar terlena dalam mimpi, hubungan
kita dengan panca indera kita dan dengan dunia riil kita hampir
benar-benar terputus. Apakah anda bisa membedakan mana mimpi dan mana
kenyataan ketika anda sedang benar-benar terlena dalam mimpi? Hampir
tidak mungkin bukan? Karena kita terserap dalam mimpi kita. Cuma
memang mimpi itu berjalan singkat dan kita dengan cepat sadar kembali
kemudian balik lagi ke dunia riil.

Nah, bagaimana dengan orang yang sedang mengalami koma di rumah sakit?
Apakah dia tidak pernah terbangun dari mimpinya? Apakah mimpinya cukup
lama sehingga dia juga cukup lama TERLENA dalam mimpinya tersebut?
Bagaimana dengan orang yang sudah meninggal? Apakah orang itu berarti
bermimpi untuk selama-lamanya?

Jika ternyata kita tidak bisa membedakan mana dunia nyata dan mana
dunia mimpi ketika kita sedang tertidur sangat lelap dan terlena dalam
mimpi, apakah yang anda rasakan ketika dalam mimpi yang melenakan
anda, di dalam mimpi itu anda sedang dikejar oleh macan? Apakah
kira-kira sama dengan perasaan anda dikejar macan di dunia nyata?
Pikiran sudah terbukti merasa sama takutnya ketika mengira seutas tali
adalah seekor ular. Dalam hal ini, mata telah melihat seutas tali,
namun pikiran demikian paniknya sehingga yang diterjemahkan oleh otak
adalah gambar seekor ular. Dan reaksi yang dihasilkan sama persis
seperti reaksi ketika menghadapi seekor ular betulan. Jadi terbukti
pula otak TIDAK menerjemahkan input dari penglihatan APA ADANYA.
Faktanya adalah, yang diterima oleh otak adalah sinyal-sinyal listrik
dari saraf-saraf mata yang peka oleh cahaya, LALU pernahkah terpikir
bagaimana input tersebut bisa diterjemahkan menjadi gambar dan dapat
DISADARI oleh kita dengan melihat gambar-gambar tersebut?
Pertanyaannya, siapakah yang melihat melalui mata ini? Otakkah? Otak
melihat melalui lensa mata memakai penglihatan apa? Analoginya adalah,
mata kita seperti peralatan kamera foto. Dimana gambar yang diambil
oleh lensa kamera pada sensor penerima tersebut terposisi terbalik,
sama seperti gambar terbalik yang terbentuk di belakang retina mata
kita akibat dari bentuk lensa mata kita tersebut. NAH, kita kemudian
bisa melihat hasil gambar foto dari kamera foto tersebut baik secara
digital maupun di atas kertas foto. Disini KITALAH yang melihat gambar
tersebut. Namun hasil gambar yang diterima oleh saraf belakang retina
kita, siapakah yang melihat? Kitakah? Faktanya, MEMANG KITA yang
melihat hasil gambar tersebut, terbukti dari kemampuan kita melihat
dan mengenali benda-benda di dunia nyata ini. Namun sekali lagi
pertanyaan ini berkumandang…. SIAPAKAH KITA YANG MELIHAT GAMBAR
TERSEBUT? Mungkin pertanyaan tepatnya adalah DIMANAKAH KITA YANG
SEDANG MELIHAT GAMBAR TERSEBUT?. Dalam hal kamera foto, posisi kita
jelas, yaitu manusia yang terletak di LUAR kamera foto dan sedang
melihat gambar foto tersebut (gambar bisa di dalam kamera jika
digital, atau di luar kamera jika analog). Dalam hal mata sebagai
salah satu panca indera, DIMANAKAH KITA yang sedang melihat melalui
indera mata kita? Di dalam otakkah? Di belakang retinakah? Cobalah
sekarang sungguh-sungguh mencoba melihat. Nah coba sekarang meramkan
mata kita. Apakah ketika mata kita sedang meram kita tetap dapat
melihat? Coba lagi ketika mata kita ditutup dengan tangan atau apapun.
Apakah kita tetap dapat melihat? Nah bisa bayangkan apa yang terjadi
bila kita buta. Samakah seperti bila kita sedang meram atau sedang
menutup mata kita? Saya belum pernah mendengar kesaksian orang yang
tidak buta dari lahir, tapi kira-kira menurut saya, mata yang buta,
kegelapan yang kita rasakan akan jauh lebih parah, karena tidak ada
cahaya sama sekali yang dapat masuk, atau tidak ada berkas-berkas
cahaya yang terlekat dan dibiaskan lagi oleh memori otak (seperti
ketika kita menutup mata kita di tempat yang terang, maka sebelum
gelap total kita akan merasa seperti ada bias-bias cahaya atau terang
yang tersisa yang dihasilkan oleh ingatan atau memori kita akibat
kesan sedetik yang lalu).

Fakta : KITA yang melihat melalui mata. Apakah `kita’ itu adalah otak
kita? Menurut ilmuwan sih otak kitalah yang memproduksi gambar
tersebut dan memampukan kita menjadi `melihat’. Analoginya pada kamera
analog adalah reaksi kimia kertas foto negatif dan mekanik dari kamera
tersebutlah yang menimbulkan gambar negatif dalam kertas tersebut.
Sedangkan lensa hanya bertugas untuk mengatur intensitas cahayanya
saja. Atau prosesor yang menciptakan gambar dari lensa pada kamera
digital. Berarti otak kita adalah prosesor dan saraf sensor di
belakang retina mata kita adalah kertas negatifnya.yang kemudian
merubah cahaya menjadi sinyal listrik untuk diolah di otak.
Lalu…lalu…LALU….. BALIK LAGI KE PERTANYAAN SEMULA…. SIAPA DAN
DIMANA KITA YANG AKHIRNYA DAPAT MELIHAT GAMBAR TERSEBUT? Anda bisa
menemukannya? Jika kita tidak bisa menemukannya, lalu KENAPA kita
TETAP bisa melihat gambar-gambar dunia nyata ini??? Ini semua yang
saya ceritakan adalah fakta. Dan jarang sekali kita bertanya-tanya
terhadap fakta yang sangat ANEH ini. PARADOKS lagi! Kita tidak dapat
menemukan siapa yang melihat gambar ini semua, namun walaupun begitu
toh kita tetap dapat melihat! Paradoks bukan?

Pernahkah berpikir mengapa kita bisa menciptakan tiruan dari mata?
Seperti kamera foto, kamera video, televisi, vcd, dsb…dsb? Karena
ilmuwan telah mempelajari sifat-sifat dari cahaya dan memanipulasinya
supaya sesuai dengan cara kita melihat. Pada kamera analog, kita telah
mengetahui cermin bisa memantulkan gambar yang sama persis dengan
aslinya (dengan beberapa sifat seperti keterbalikan gambar,
dll…dll.). Kemudian kita mengetahui, lensa meneruskan cahaya, dan
ada berbagai macam lensa yang bisa dimanipulasi. Lensa dan cermin
sudah terbukti sebagai penerima atau alat penerus gambar yang sesuai
dengan apa yang kita lihat sebagai gambar dunia nyata. Lensa dan
cermin ini kemudian dimanipulasi sedemikian rupa dan diarahkan pada
target penyimpan gambar, dalam hal ini adalah kertas foto negatif yang
mengandung kimiawi yang bereaksi dengan cahaya. Yah sederhananya sama
seperti gambar yang dapat tercetakan (menyeplak) pada bahan kimiawi di
kertas foto negatif. Yang kemudian kita proses lagi sehingga menjadi
gambar positif (yang tidak terbalik) dan tercetaklah gambar dunia
nyata betulan di sebuah kertas foto. Dan dengan pengetahuan seperti
ini tidak heran manusia bisa meniru indera mata. Namun sekali lagi,
ketika kita melihat bayangan di cermin, melihat gambar melalui lensa,
melihat hasil cuci cetak gambar di kertas foto, melihat gambar digital
di kamera digital, di tv di vcd atau di peralatan manapun, KITA
MELIHATNYA MELALUI MATA KITA. Semua ini kita lihat MELALUI mata kita.
MELALUI prosesor kita yaitu otak. Adakah suatu gambar yang dapat kita
lihat tanpa melalui mata? Bisa saja kita memakai mata buatan, tapi
kita tidak bisa menggantikan otak buatan. Bahkan jikapun kita bisa
menciptakan otak buatan, kita tetap tidak bisa menciptakan atau
menemukan DIRI KITA YANG MELIHAT MELALUI MATA. Jadi ini mungkin
kesimpulan yang sangat penting tapi masih bersifat spekulatif, apakah
ini berarti kita BUKANLAH OTAK KITA? Apakah ada 2 entitas yang berbeda
disini? Otak kita dan KITA SENDIRI? DIRI KITAKAH yang melihat hasil
cetakan gambar dari prosesor OTAK? Apakah ini adalah fakta? ATAU KITA
HANYALAH HASIL DARI PIKIRAN OTAK JUGA? PERSISKAH ANALOGINYA SEPERTI
DIRI KITA YANG SEDANG TERLENA DALAM MIMPI, MAKA “DIRI KITA YANG ADA
DALAM ADEGAN MIMPI” HANYALAH HASIL DARI KERJA OTAK SELAMA MIMPI
TERSEBUT???

Jika kita bukanlah otak kita, jika `kita yang melihat’ berbeda dengan
`otak yang memroses’, maka kita sedang berada dimana sebenarnya?
Apakah gambar yang diterjemahkan oleh otak sudah merupakan gambar
seluruh dari dunia nyata, ataukah kita mengalami hasil penglihatan
yang tidak lengkap? Analoginya seperti ini. Bagi orang yang buta warna
(yang bisa kita kira-kira seperti menonton tv jaman jebot yang masih
hitam putih), hitam putih adalah suatu kenyataan. Dia tidak bisa
melihat di luar hal itu. Jika saja semua orang buta warna, maka tidak
akan ada orang yang mengatakan, “ini warnanya hijau”, karena warna
hanya ada dua definisi, hitam dan putih. Namun karena orang buta warna
ini hidup diantara orang normal, maka dia akan bisa melihat
orang-orang lain bisa membedakan benda yang bentuknya sama dari
warna-warnanya. Dan dengan begitu dia menyadari kekurangannya. Namun
sampai matipun dia tetap tidak sanggup melihat warna walaupun dibantu
dengan teknologi multimedia apapun kecuali mungkin dibetulin otak atau
sensor matanya supaya sesuai lagi dengan orang yang berpenglihatan
normal.

Nah, penglihatan manusia normalpun mempunyai batas-batas kemampuannya.
Selalu ada hewan yang kemampuan melihatnya di luar kemampuan kita,
misalnya dapat melihat dalam gelap, atau dapat melihat cahaya yang
sangat silau, atau dapat melihat kamuflase-kamuflase pertahanan diri
dengan ketelitian membedakan warna yang luar biasa. Kemudian kita
menyadari bahwa setiap hewanpun ternyata mempunyai kemampuan melihat
yang berbeda-beda dan lebih beda lagi kalau dibandingkan dengan
kemampuan melihat pada manusia. Pada setiap manusiapun, kemampuan
melihatnya juga berbeda-beda (ada yang pakai kacamata minus, plus,
silinder, buta warna, atau kelemahan lain yang tidak dianggap sebagai
penyakit). Setiap orang pasti mempunyai kemampuan melihat yang
berbeda-beda. Apakah prosesor mereka sama seperti yang kita punyai?
Belum tentu. Alasannya? Karena kita tidak bisa membuktikannya. Bilapun
kita bisa memakai otak orang lain (dengan transpalasi otak misalnya),
apakah diri kita ikut berubah? Atau diri kita tetap seperti kita sedia
kala? Belum ada yang bisa membuktikannya! Dan selama belum ada bukti,
teori apapun adalah spekulatif! Dan saya yakin, walaupun sudah memakai
otak orang lain, pertanayaan yang tidak terjawab tetap sama, “siapakah
dan dimanakah aku yang sedang melihat melalui mata dan otakku ini?”
Jadi, apapun hasil otak-atik pemikiran kita mengenai melihat dan
indera penglihatan, selalu pertanyaan tersebut tidak terjawab.
Semuanya tetap menjadi misteri bagi diri kita. Dan kehidupan memang
suatu misteri.

Kehidupan adalah misteri, jadi apapun sebenarnya sulit dijadikan
sebagai fakta, karena kehidupan sendiri adalah perubahan yang konstan.
Judul artikel ini adalah “kita sebenarnya sendirian”. Hal ini akan
terasa benar ketika kita menyadari tidak ada yang bisa kita pegang
sebagai acuan fakta. Hal yang paling jelas yaitu penglihatanpun
menyimpan suatu misteri besar! Yaitu adalah “siapa dan dimana `diri’
yang sedang melihat” dan “apakah `diri’ terpisah dari pikiran atau
diri merupakan hasil dari pikiran”, dalam hal, `diri’ melihat melalui
mata? Maka dari itu, kalau kita masih belum menemukan jawaban yang
memuaskan dari pertanyaan-pertanyaan ini, maka dunia nyata yang kita
lihatpun sebenarnya sifatnya sama seperti mimpi di tidur yang lelap.
Dalam lenaan mimpi, kita tidak menemukan diri kita yang sedang melihat
adegan-adegan mimpi. Tapi jika kita mulai tersadar dari tidur, maka
kita bisa mengetahui bahwa yang melihat adegan-adegan dalam mimpi
adalah diri kita yang sedang tidur di kasur saat ini. Jika
dibandingkan dengan dunia nyata, kita masih belum dapat menemukan
siapa dan dimana diri kita yang sedang melihat adegan-adegan dunia
nyata, maka ini kita sebut terlena dalam dunia nyata, yang ekivalen
dengan terlena dalam dunia mimpi. Dan ketika kita sedang bermimpi,
kita tentu bermimpi SENDIRIAN.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: