Sabar dalam Melangkah

10 11 2009

Bersabarlah, maka urusanmu akan menjadi cepat.
Buru-burulah maka engkau akan terlambat. Memberilah
sedikit maka engkau akan mendapat banyak. Dan rakuslah
pada yang sedikit maka engkau akan kehilangan banyak.
Nasihat seperti ini telah saya hafal di luar kepala tapi
kelakuan ini masih tetap saja. Bukan sekali saja saya
buru-buru berangkat ke kantor cuma untuk kembali lagi ke
rumah. Ada saja yang tertinggal . Marah sekali rasanya
pada nasib sial semacam ini.
Bayangkan, demi sikap buru-buru ini banyak hal sudah saya
pertaruhkan. Mulai dari mengorbankan makan pagi,
membentak-bentak anak yang lambat berbenah ke sekolah
sampai mengomeli istri. Dan ketika persoalannya tinggal
satu saja: ngebut menuju kantor secepat yang saya bisa, di
tengah jalan, ketika perjalanan sudah hampir separohnya,
baru teringatlah tentang anak kunci yang belum terbawa.
Gemeretak gigi-gerigi ini. Tegak lurus rambut di kepala
dan seluruh isi kebon binatang muncul sebagai
sumpah-serapah. Tapi setelah nama binatang habis disebut,
tulang belulang ini lemas sendiri. Karena hidup di pagi
itu hanya punya sau pilhan: kembali ke rumah dan mengambil
anak kunci. Jadi semua pengorbanan itu ludes sia-sia.
Bukan cuma akhirnya harus terlambat ngantor, tapi
anak-anak juga kena imbas telat ke sekolah.

Ini saja baru sikap buru-buru individu. Padahal ada jenis
buru-buru lain, yang merupakan gabungan dari keburu-buruan
individu yang digabung menjadi satu. Pemandangan semacam
ini, saya temui di salah satu jalan di Semarang belum lama
berselang. Sebuah jalan satu jalur yang sibuk, khas
Indonesia, yang karena semua tengah begitu terburunya,
maka saling serobot, enggan mengalah demi kelancaran
bersama, adalah soal biasa.
Di depan rombongan buru-buru itulah berjalan sebuah truk
yang lebih tepat disebut merangkak saking lambatnya dan
susah pula disalip saking besarnya. Truk ini juga khas
truk Indonesia, bukan cuma tua umurnya, tapi super berat
pula muatannya: tumpukan kayu bangunan yang besar dan
menjulang.
Sudah besar, lambat, berat, eh truk ini mau berbelok masuk
ke gudangnya pula. Sudah masuk pun memilih dengan ekornya,
ketimbang dengan moncongnya. Sudah dengan ekor, jalanan
ini terlalu sempit pula untuk ukuran besar dan panjang
truk celaka ini. Maka bisalah dimengerti, jika truk ini
memerlukan manuver ekstra untuk memasuki gudang dengan
buntutnya.
Maka bisa dimengerti jika barisan kendaraan yang berhenti
paksa ini harus menahan kejengkelan dan makin lama makin
panjang saja antrean kejengkelan ini, sementara si truk
ini cuma bisa maju mundur untuk mencari posisi terbaiknya.
Karena posisi terbaik itu tidak datang-datang juga,
meskipun sopir truk itu juga sudah berkeringat sedemikian
rupa, tapi akhirnya habis sudah kesabaran antrean panjang
ini. Klakson sudah begitu ramai dan makin banyak saja
klakson dibunyikan sebagai ungkapan kemarahan.
Kegaduhan klakson ini akhirnya berbuah juga. Bukan berupa
keberhasilan truk ini memasuki gudang melainkan dengan
merontokkan as mesinnya. Karena kepanikan klakson, sopir
ini terlalu bekerja keras untuk memaksa truknya bekerja di
luar batas. Dan sopir ini berhasil merontokkan mesin
truknya dengan baik.
Begitu truk ini rusak sempurna, sempurnalah juga antrean
ini. Maju kena, mundur kena! Semua orang yang tadi
terbakar kemarahan malah cuma bisa nyengir putus asa. Dan
semua orang berubah dalam keadaan seragam, meringis dan
tertawa-tawa. Aneh sekali.
Ketika keadaan sudah begitu buruknya, semua orang malah
sepakat untuk tidak berpikir tentang keterlambatan urusan
mereka, tentang watak buru-buru mereka. Sepanjang mata
memandang ke belakang, isinya hanya berjubelnya antrean,
dan semua saling mengabarkan dengan tertawa, bahwa maju
tak bisa mundur tak bisa!
Beginilah. Ketika sudah berada di puncak keterlambatan,
ketika orang tak bisa lagi bersikap buru-buru, manusia
malah gampang merasa rileks dan gampang sekali tertawa.
Bisa jadi, untuk bisa mentertawai kebodohan diri sendiri,
kita memang perlu untuk lebih dulu mempraktekkan kebodohan
ini: memaksa orang lain buru-buru, untuk akhirnya cuma
makin memperlambat urusan kita sendiri.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: