Fitrah, Cara Mudah Mengenal Tuhan

1 02 2010

Dari sekian argumen yang dikemukakan oleh para agamawan, argumen fitrah merupakan salah satu cara termudah untuk dapat mengenal Tuhan. Karena argumen ini bertumpu pada esensi dasar manusia. Oleh karenanya, setiap orang akan dapat mencernanya dengan lebih mudah, karena setiap manusia mesti memiliki esensi dasar tersebut.

Fitrah -dari sisi fungsinya- memiliki tiga kekhasan utama; Pertama: Cinta kepada kesempurnaan, Kedua: Cinta kepada kebenaran, dan Ketiga: Cinta kepada keindahan. Walaupun ketiga hal tersebut berbeda dari sisi konsep dan definisi, namun secara umum kekhasan kedua dan ketiga kembali kepada kekhasan yang pertama, yaitu cinta kepada kesempurnaan. Karena, meskipun secara praktis masing-masing dari keindahan dan kebenaran itu memiliki contoh luar (ekstensi/mishdaq) yang berbeda, namun secara global semua ekstensi dari dua hal tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk dari kesempurnaan.

Ditinjau dari sisi dasar eksistensinya, fitrah juga memiliki empat kekhasan; Pertama: Dia Tidak mengalami perubahan dengan berubahnya waktu dan tempat, Kedua: Dia bisa diperoleh tanpa memerlukan proses belajar-mengajar, Ketiga:

Dia dimiliki oleh setiap manusia, walaupun pengaruhnya terhadap diri setiap individu berbeda-beda. Keempat: Dia senantiasa hadir dalam diri setiap insan, dan tidak akan pernah sirna dari diri mereka, karena ia merupakan bagian primer dari penciptaan manusia, dan merupakan esensi dasar bagi penciptaannya.

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa fitrah insan senantiasa mengajarkan manusia untuk mencintai segala bentuk kesempurnaan. Seruan fitrah ini tidak akan pernah berhenti selama pemiliknya belum dapat menunaikan ajakannya tersebut dengan baik sesuai dengan idealisme fitrah. Bentuk kesempurnaan yang dilihat oleh fitrah insani adalah kesempurnaan yang bersifat absolut. Oleh karenanya, sebelum pemilik fitrah itu dapat mencapai kesempurnaan absolut, niscaya fitrah akan selalu mengajaknya menuju kepada kesempurnaan yang bersifat absolut tersebut. Tetapi, mengingat semua kesempurnaan yang ada pada eksistensi alam materi ini bersifat terbatas, sementara fitrah itu terus mengajak kepada suatu yang tidak terbatas, dengan demikian tidak ada jalan lain bagi pemilik fitrah kecuali ia harus menelusuri alam non-materi dan supra-natural demi mencari kesempurnaan yang dituntut oleh fitrah tersebut. Tetapi, alam non-materi pun memiliki gradasi wujud yang sangat banyak, dan semua gradasi wujud tersebut tetap tidak akan sesuai dengan seruan fitrah yang senantiasa menuntut kesempurnaan yang bersifat absolut. Oleh karena itu, hanya eksistensi yang bersifat absolut dan yang memiliki kesempurnaan absolut saja yang mampu menghentikan tuntutan fitrah. Eksistensi yang brsifat absolut dan memiliki kesempurnaan absolut itu -dalam bahasa agama- disebut Tuhan.

Ketika seseorang telah dapat menemukan pemilik kesempurnaan absolut (Tuhan) dan berhasil meraih-Nya, niscaya ia tidak akan menganggap lagi berbagai bentuk kesempurnaan apapun selain-Nya. Monoteisme sejati adalah seseorang yang menganggap bahwa kesempurnaan sejati itu hanya milik Tuhan. Dia sama sekali tidak mengharap dan menginginkan bentuk kesempurnaan apapun selain kesempurnaan Tuhan yang bersifat abstrak, apalagi sampai terikat padanya. Kalaupun dia berusaha mencari kesempurnaan selain kesempurnaan Tuhan, hal itu ia lakukan hanya sebagai sarana dan perantara untuk mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi, yang berakhir pada kesempurnaan absolut yang ada pada Dzat Tuhan.

Setiap orang yang tidak mau berusaha untuk mengenal kesempurnaan absolut Tuhan, pasti akan merasa gundah dan gelisah terhadap tuntutan fitrah insaniahnya. Mengapa tidak? Di satu sisi, fitrah dirinya secara terus menerus menuntutnya untuk mencari kesempurnaan. Sedang di sisi lain, karena pengetahuannya terhadap konsep kesempurnaan hanya terbatas pada wujud materi saja, maka ia hanya akan menyibukkan dirinya dalam upaya mencari kesempurnaan tersebut di alam materi, sementara hal itu tidak dapat menghentikan tuntutan fitrahnya. Orang yang melihat kesempurnaan hanya pada harta kekayaan, niscaya ia akan memusatkan konsentrasinya secara penuh untuk meraih semua harta kekayaan semaksimal mungkin. Mengingat bahwa materi dan kekayaan duniawi bersifat terbatas, sementara fitrah insani menuntut kekayaan yang tidak terbatas (absolut), oleh karena itu meskipun kekayaan duniawi telah dapat ia raih, namun hal itu tidak akan dapat menghentikan tuntutan fitrahnya. Dia senantiasa akan diteror dengan tuntutan fitrah untuk memperoleh kekayaan absolut yang merupakan bagian dari kesempurnaan sejati. Dan hal itu tidak mungkin didapati kecuali dari Dzat Yang Maha Kaya, Pemilik kesempurnaan absolut.

Jadi, setiap manusia akan selalu dituntut dan dituntun oleh fitrahnya untuk menuju Dzat Yang Maha Sempurna. Dzat itulah yang dalam bahasa agama disebut sebagai Tuhan, yaitu pemilik kesempurnaan absolut.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: